Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

cari artikel lainnya

Ingin pasang widget seperti ini? KLIK DISINI

Tampilkan postingan dengan label NASEHAT AL-USTADZ ABU AHMAD PURWOKERTO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT AL-USTADZ ABU AHMAD PURWOKERTO. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

MENYIBUKKAN DIRI DENGAN ILMU TIDAK MENDATANGKAN PEKERJAAN


Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhaly waffaqahullah ketika sedang menceritakan tentang perjalanan hidup Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan tentang menuntut ilmu serta keadaan kita dan anak-anak kita:

Dan perkataan yang paling mengherankan yang kami dengar belakangan ini, dan duhai seandainya kami tidaklah hidup hingga harus mendengar perkataan ini:
(Ketika dikatakan): “wahai anakku, wahai saudaraku hendaknya engkau menuntut ilmu syar’i” dia menjawab “tidak mendatangkan pekerjaan...”
Allahu Akbar!!
Seakan-akan ilmu syar’i itu dituntut untuk bisa bekerja!?
Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tujuannya pekerjaan??
(mereka berkata): tidak, pergilah belajar untuk jadi mekanik, pergilah untuk jadi dokter, pergilah untuk jadi ini itu ..

Dan bahkan yang lebih mengherankan dari itu bahwa engkau bisa mendapati hal ini di rumahmu, bisa jadi engkau mendengarnya dari sebagian saudara-saudaramu dan orang-orang yang engkau cintai: “nilainya sembilan puluh sembilan tapi masuk fakultas syariah? Demi Allah ini suatu kerugian, seharusnya dia masuk kedokteran”
Kedokteran apa? Kedokteran manusia, kedokteran tubuh!
Sedangkan kedokteran bagi rohani dan agama mereka merasa tidak butuh dengannya! Laa ilaaha illallah! Sungguh betapa besar perkataan ini seandainya orang yang mengatakannya mau meresapinya, sungguh betapa besar perkataan ini seandainya orang yang mengucapkannya mau memperhatikan apa yang dia ucapkan.

Syariat ini butuh kepada para penghafal, butuh kepada orang-orang pandai, butuh kepada orang-orang yang jeli, butuh kepada manusia unggulan, orang-orang cerdas, orang-orang yang berpengetahuan tinggi seperti mereka para imam yang dengan merekalah Allah menjaga agama ini.
Adapun sekarang kita melemahkan semangat para penuntut ilmu syar’i dan memperdengarkan kepadanya perkataan seperti ini.
Wajib atas kita semua untuk menyemangati anak-anak kita agar berkonsentrasi untuk menjaga syariat dan membawa syariat.
Barangsiapa yang melayani/membantu syariat ini maka dunia akan melayaninya. Barangsiapa yang niatnya (dalam menuntut ilmu) menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi umatnya dan menjaga agama Islam serta membelanya, maka demi Allah dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina, dan Allah akan memudahkan baginya urusannya dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Maka wajib atas kita untuk meyakini hal tersebut. Dan kita sekarang wahai saudara-saudara dan anak-anakku, kita berada di suatu zaman di mana musuh-musuh Islam menyerang Islam dan muslimin, dan kita membutuhkan orang-orang unggulan yang Allah subhanahu wa ta’ala menjaga syariat ini dengan adanya mereka, kita butuh untuk mengerahkan kemampuan yang besar untuk menjaga syariat yang mulia ini, sehingga Allah akan menjaga mereka dengan syariat ini sebagaimana mereka telah menjaganya.

﴿ وَالَّـذِينَ جَاهَـدُوا فِينَا لَنَهْـدِيَنَّهُمْ سُبُلَـنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمـَعَ الْمُحْسِنِينَ  ﴾ [ سورة العنكبوت الآية (69)] 》.
 
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” Al Ankabut: 69

Alih Bahasa : Al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

"إنَّ الِاشتغالَ بالعلم ليس فيه وَظائِف"
( ليتَنا لم نَعِشْ حتّى نسمعَ مِثلَ هذا الكلام)
للشيخ العلامة محمد بن هادي المدخلي -حفظه الله ورعاه-
[ https://app.box.com/s/yinkhholmfnsxs85z4kf51jy4hxx4qjz ]
✍ التــفريــغ :
قال الشيخ محمد بن هادي المدخلي وفقه الله وهو يتحدث عن سيرة الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله وعن طلب العلم وحالنا وحال أبنائنا :
《 وأعجب ما نسمع اليوم ويا ليتنا ما عشنا حتى نسمع هذا :
يا ولدي يا أخي عليك بالعلم الشرعي قال: " ما في وظايف !! "
الله أكبر! ..
كأن العلم للوظايف يطلب!؟
كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم لأجل الوظيفة؟؟!!
لا ، روح ميكانيكي ، روح طبيب روح كذا .
بل وأعجب من ذلك أن تجد هذا في بيتك وربما سمعته من بعض إخوانك وأحبتك :"معدله تسعة وتسعين ويذهب إلى الشريعة؟! "
والله خسارة...
يذهب إلى الطب طب أيش؟
الطب البشري طب الأبدان !
طب الأرواح والأديان زهدوا فيه ! لا إله إلا الله ! ما أعظمها من كلمة لو تدبرها القائل لها !
ما أكبرها من كلمة لو تأملها الناطق بها لما نطق بها
⇦ الشريعة تحتاج إلى حُفّاظ وتحتاج إلى أذكياء وتحتاج إلى متيقظين ، تحتاج إلى نجباء ونبهاء ، وعارفين مثل هؤلاء الأئمة الذين حفظ الله بهم الدين.
واليوم نَفتُ في عضُد الطالب ونُسمعه مثل هذا الكلام
يجب علينا جميعا أن نحث أبنائنا على الاتجاه لحفظ الشريعة وحمل الشريعة
⇦ من يخدم الشريعة تخدمه الدنيا
من كان قصده رفع الجهل عن نفسه ونفع أمته وحفظ دين الإسلام والذب عنه والله تأتيه الدنيا راغمة ويهيئ الله له من حيث لا يحتسب.
↫ فيجب علينا أن نؤمن بذلك ونحن معشر الإخوة والأبناء في زمن يتكالب فيه أعداء الإسلام على الإسلام والمسلمين ونحن بحاجة إلى الأفذاذ ليحفظ الله بهم سبحانه وتعالى هذه الشريعة ، بحاجة إلى هذه الطاقات العظيمة لحفظ الشريعة الكريمة فيحفظهم الله بها كما حفظوها
﴿ وَالَّـذِينَ جَاهَـدُوا فِينَا لَنَهْـدِيَنَّهُمْ سُبُلَـنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمـَعَ الْمُحْسِنِينَ  ﴾ [ سورة العنكبوت الآية (69)] 》. 
ــــــــــــــ
✍  من محاضرة "وقفات من سيرة الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله"  ألقاها -حفظه الله تعالى- في مسجد بني سلمة  بالمدينة النبوية يوم الجمعة 18 من شهر شوال 1432هـ، ضمن فعاليات دورة الإمام ابن قيم الجوزية السادسة.
حمّـل المحاضرة كاملة من هُنـ☟ـا:
[ http://goo.gl/RAQnWK ]

Jumat, 19 Februari 2016

ORANG YANG PALING TUNDUK KEPADA PERINTAH ALLAH DAN RASUL-NYA MEREKALAH ORANG YANG PALING KUAT IMANNYA

Berkata Al ‘Allamah ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala:

Jika telah datang larangan tentang suatu hal maka hindarilah hal tersebut dan jangan engkau tanyakan apakah larangan tersebut berupa pengharaman ataukah sekedar makruh saja?

Dan apabila telah datang perintah maka ikutilah, dan jangan engkau bertanya apakah perintah itu menunjukkan kewajiban atau sekedar sunnah saja?

Para shahabat radhiallahu ‘anhum, dahulu apabila mereka diperintah oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan suatu hal, mereka tidak kemudian berkata: wahai Rasulullah apakah engkau memaksudkan dengannya kewajiban atau sunnah saja? Namun mereka langsung mengerjakannya.

Dan orang yang paling patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya merekalah orang yang paling kuat imannya.

Allah ta’ala berfirman :

{إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِين َ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّه ِ وَرَسُولِه ِ لِيَحْكُم َ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }.
(النور - ٥١ ).

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Sumber:  Liqa Al Bab Al Maftuh - 160

Al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

------------------------------

أشد الناس  انقيادًا لأمر الله ورسوله
هم أقوى الناس إيمانًا ...

  قال الأمام إبن العثيمين  رحمه الله تعالى :

إذا  ورد  النهي  فاجتنبه ، ولا تسأل
هل هو للتحريم أو للكراهة ؟

وإذا وردالأمر   فاتبعه  ، ولا  تسأل هل هو
للوجوب أو للاستحباب ؟

فالصحابة رضي الله  عنهم  ، إذا كانوا
أمرهم الرسول صلى الله عليه وسلم  بشيء ، لا يقولون يا رسول الله هل قصدت الوجوب ، أو
الاستحباب ، يفعلون مباشرة ...

وأشد الناس  انقيادًا لأمر الله ورسوله
هم أقوى الناس إيمانًا ...

قال الله تعالى :

{إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِين َ إِذَا دُعُوا إِلَى
اللَّه ِ وَرَسُولِه ِ لِيَحْكُم َ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ }.
(النور - ٥١ ).

[ لقاء الباب المفتوح -( ١٦٠ ) ]

Jumat, 20 November 2015

SEBAB KOKOHNYA HAFALAN AL QUR`AN

SEBAB KOKOHNYA HAFALAN AL QUR`AN

Asy Syaikh Ubaid Al Jabiry – Hafizhahullah

Tanya:
Apa saja sebab-sebab yang dapat membantu kita dalam mengokohkan (ضبط) Kitabullah – azza wa jalla?

Jawab:
Adh Dhabth adalah suatu hal yang lain, adh dhabth haruslah diambil dari seorang alim, sampai benar seluruh harakat (pada bacaan)mu, dan sampai engkau bisa memberikan kepada setiap huruf haknya berupa makhraj, dan ini diambil dari ulama. Akan tetapi tampaknya engkau bertanya tentang hafalan, engkau maksudkan adh dhabth yang berarti al hifdz (hafalan),

maka ini ada beberapa sebab:
Pertama: engkau mencari saat engkau bersemangat, maka apabila engkau mendapati dirimu merasa jenuh atau malas maka tinggalkan atau persedikit (menghafal/memurajaah Al Qur`an -pen).

Kedua: tidak adanya kesibukan-kesibukan atau hal-hal yang menyibukkan, karena apabila pikiran sedang sibuk atau tersibukkan maka tidak dapat memuat hafalan.

Ketiga: dan ini adalah waktuku (untuk menghafal/muroja’ah – pen), waktu terbaik adalah pada akhir malam, apabila engkau telah shalat (lail) sesuai yang telah ditetapkan untukmu dan engkau telah melakukan witir, maka bacalah semampumu.

Ada perkara yang keempat: yaitu engkau memperhatikan tempat-tempat berhenti, contohnya kisah (yang ada dalam Al Qur`an – pen) apabila engkau telah selesai membaca suatu kisah maka janganlah engkau gabungkan dengan kisah yang lainnya, usahakan misalnya engkau menghafal kisah ini dulu.

Adapun wirid Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam - (bagian yang dibaca per hari dari Al Qur`an) maka aku tidak mengetahuinya, belum pernah aku dapati tentangnya sampai saat ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kepadanya Al Qur`an, maka tidak tertutup kemungkinan beliau mengkhatamkannya setiap bulan, akan tetapi aku mengetahui apa yang telah datang pula dari amalan salaf, bahwa waktu tercepat bagi mereka untuk mengkhatamkan Al Qur`an adalah dalam tiga malam,
wallahu a’lam.

Alih bahasa: Al-Ustadz Abu Ahmad purwokerto

Senin, 16 November 2015

PENTINGNYA IKHLAS DALAM DAKWAH

PENTINGNYA IKHLAS DALAM DAKWAH

________________________________

Berkata Asy Syaikh  Al 'Allamah Muqbil bin Hadi Al Wadi'i - rahimahullah -:

Dakwah ketika sudah dimasuki keinginan-keinginan duniawi maka akan sedikit barakahnya

[Tuhfatul Mujib 135]

الدعوة والدنيا

قال الشيخ العلاّمة مقبل بن هادي الوادعي رحمه اللّه:

- والدعوة عند أن دخلتها المطامع الدنيوية
>> قلَّت بركتها .

[ تحفة المجيب (135) ]

Ahli bahasa : Al-ustadz abu ahmad purwokerto

Jumat, 13 November 2015

TIDAK SEMUA FITNAH HARUS DIJAUHI WAHAI SAUDARA


Telah bersabda Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -

"إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن، إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن، إِن السَّعِيْد لَمَن جُنِّب الْفِتَن -يُرَدِّدُهَا ثَلاث مَرَّات- وَلِمَن ابْتَلَى فَصَبْر فَوَاهاً".

“Sesungguhnya orang yang beruntung adalah yand terhindarkan dari fitnah, sesungguhnya orang yang beruntung adalah yand terhindarkan dari fitnah, sesungguhnya orang yang beruntung adalah yand terhindarkan dari fitnah, dan barangsiapa yang diuji kemudian bersabar maka wah (betapa mengagumkannya)” HR Abu Dawud (4263) dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani – rahimahullah – dalam Ash Shahihah

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Ghalib Al Umary – Hafidzahullah – setelah membawakan faidah-faidah dari hadits tersebut:

Faidah: Tidak semua fitnah harus dijauhi akan tetapi hanya fitnah yang padanya tidak diketahui mana yang benar dan mana yang bathil/salah, adapun fitnah yang jelas dan terang yang padanya diketahui mana yang benar dan mana yang bathil maka wajib untuk menolong kebenaran dan menolak yang bathil.

Berkata Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz – rahimahullah –
“Hadits-hadits mengenai fitnah dan peringatan darinya di kalangan ulama (maknanya) dibawa kepada fitnah-fitnah yang tidak diketahui padanya pihak yang benar dari pihak yang salah, maka pada fitnah-fitnah ini yang disyariatkan bagi seorang mukmin adalah berhati-hati darinya, dan fitnah jenis inilah yang dimaksud Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

" القاعد فيها خير من القائم , والقائم فيها خير من الماشي، والماشي فيها خير من الساعي " الحديث

“Padanya orang yang duduk lebih baik dari orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berlari” al hadits.

Adapun fitnah-fitnah yang diketahui padanya mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah dan diketahui mana yang menganiaya (zhalim) dan mana yang teraniaya maka tidak termasuk pada hadits-hadits tersebut, bahkan dalil-dalil syar’i dari Al Kitab (Al Qur`an) dan As Sunnah telah menunjukkanatas wajibnya menolong pihak yang benar dan teraniaya atas pihak yang aniaya dan melampaui batas.” [Majmu’ul Fatawa wal Maqalat (7/363)]

Alih bahasa: Abu Ahmad Purwokerto

Sumber: channel Telegram Asy Syaikh Muhammad bin Gholib:
العمري (مسائل وفوائد)
https://telegram.me/m_g_alomari

Kamis, 29 Oktober 2015

ORANG YANG BERTAUBAT DARI PINJAMAN RIBAWI HARUSKAH MENGEMBALIKAN PINJAMAN TERSEBUT SEPENUHNYA

Fatwa Asy Syaikh Muhammad Ali Firkous Al Jazairy - hafizhahullah

Tanya:
Saya telah meminjam sejumlah uang dari bank – karena terpaksa – untuk membeli rumah yang dapat menaungi saya beserta keluarga, dan sekarang – alhamdulillah – saya telah mengetahui hukum syar’i, dan saya ingin bertaubat, maka apa kiranya yang bisa saya lakukan? Sebagai catatan saya belum menyelesaikan pengembalian pinjaman tersebut secara sempurna. Jazakumullah khairan.

Jawab:

Hukum asal dalam dari pinjaman ribawi adalah haram dan batal (akadnya- pent), berdasarkan firman Allah – ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنتُم مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ﴾ [البقرة: ٢٧٨ ـ ٢٧٩]
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [Al Baqarah: 278 – 279].
Sebagaimana pada asalnya tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak mengetahui hal yang sangat penting dari permasalahan-permasalahan agama ataupun duniawi, dikarenakan wajibnya menuntut ilmu syar’i berdasarkan sabda Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«طَلَبُ العِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»(١)،
“menuntut ilmu sesuatu yang wajib bagi setiap muslim”(1)

Dan tidak boleh bagi seseorang untuk tidak mengetahui sesuatu yang secara otomatis telah dimaklumi merupakan bagian dari agama (معلومم من الدين بالضرورة)atau sesuatu yang telah masyhur (bahwa ia termasuk bagian dari agama – pent), oleh karenanya para ulama qawa’id meletakkan suatu kaidah yang kandungannya sebagai berikut:
«لاَ يُقْبَلُ فِي دَارِ الإِسْلَامِ عُذْرُ الجَهْلِ بِالحُكْمِ الشَّرْعِيِّ»؛
Tidaklah diterima uzur ketidak-tahuan terhadap hukum syar’i di negara Islam

Maka ketika tidak ada kekuasaan syar’i dalam mengatur hukum-hukum yang berhubungan dengan akad-akad, dari segi pembatalan akad dan mengembalikan kedua pihak yang menjalankan akad sebagaimana keadaan seperti sebelum terjadinya akad, dan dikarenakan tindakan riba yang dilakukannya – yang merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah subhanahu  wa ta’ala – tidak dapat dikembalikan sebagaimana sebelum terjadinya akad, ketika tidak dapat terjadi semua hal tersebut maka akad disahkan karena darurat, bukan karena diakui dalam agama, dan dia menyempurnakan pengembalian sejumlah yang diwajibkan bank atasnya tanpa berbuat aniaya.

Adapun (alasan) menjadikan pinjaman sebagai jalan keluar dari keadaan darurat, maka harus diperhatikan bahwa keadaan darurat (secara syari’at-pent) yaitu: seseorang sampai kepada tingkatan yang hampir dia binasa padanya atau mendekati kebinasaan, maknanya apabila dia mengerjakan suatu maksiat (untuk menghidari kebinasaan - pent), maka itu lebih ringan daripada meninggalkannya (karena dia akan terhindar dari kebinasaan-pent). Dan dalam permasalahan seperti ini maka untuk mengetahuinya (apakah telah sampai kepada derajat darurat atau belum – pent) dikembalikan kepada agama seseorang dalam penentuan kadarnya dan seberapa besar permasalahan tersebut.
Maka apabila hakikat yang disebutkan oleh penanya bahwa dia berada dalam keadaan darurat yang memaksa, hampir-hampir dia binasa dalam hal agamanya, hartanya atau harga dirinya, maka hal itu boleh dilakukan (yaitu meminjam uang dari bank – pent) akan tetapi hanya sekadarnya.
Oleh karena itu ulama meletakkan suatu kaidah yang kandungannya:
«إِذَا ضَاقَ الأَمْرُ اتَّسَعَ، وَإِذَا اتَّسَعَ ضَاقَ»
“apabila keadaan sulit maka dilapangkan, dan apabila keadaan lapang /mudah maka diperketat”
Dan juga kaidah lain:
«الضَّرُورَاتُ تُبِيحُ المَحْظُورَاتِ وَلَكِنْ تُقَدَّرُ بِقَدْرِهَا»
“Keadaan-keadaan darurat dapat menjadikan halal perkara-perkara terlarang akan tetapi hanya sekadarnya”.(1)
Kemudian ketahuilah bahwa suatu taubat haruslah berupa taubat yang murni dan tulus (taubat nasuha), yaitu dengan meninggalkan kemaksiatan tersebut dan seluruh kemaksiatan yang lainnya, dia bertekad kuat untuk tidak kembali melakukannya, dan mengiringi taubat tersebut dengan amal solih, berdasarkan firman Allah – subhanahu wa ta’ala:

﴿إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَحِيمًا﴾ [الفرقان: ٧٠]
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka itulah orang yang Allah ganti kejelek”an yang mereka lakukan dengan kebaikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Furqan: 70]
Dan barangsiapa yang jujur dalam bertaubat dari kemaksiatan maka akan Allah berikan petunjuk baginya kepada hal-hal yang mendatangkan kemenangan dan keselamatan di dunia dan akhirat, Allah – ta’ala – berfirman:
﴿وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ [النور: ٣١].
“dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai oreng-orang yang beriman agar kalian beruntung”

والعلم عند الله، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلَّم تسليمًا.

Al Jazair: 29 Jumadal Ula 1426 H
Bertepatan dengan 6 Juli 2005 M
__________________________________
(1)         HR Ibnu Majah di dalam “Al Muqaddimah” bab “Keutamaan Ulama dan Hasungan untuk Menuntut Ilmu” (224) dari hadits Anas I dishohihkan Al Albani dalam “Shohihul Jami’” (3914).
(2)         Dan dalam perkara ini hendaknya masing-masing mengkonsultasikan keadaannya kepada ahlul ilmi dan asatidzah untuk mengetahui apakah keadaanya secara syar’i telah dikategorikan sebagai keadaan darurat ataukah belum (pent).

Alih bahasa: Al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

Kamis, 22 Oktober 2015

DUA SYUBHAT PARA HIZBIYYIN

DUA SYUBHAT PARA HIZBIYYIN

Berkata Asy Syaikh Al 'Allamah Rabi' bin Hadi - hafidzahullahu ta'ala- :
Aku nasehatkan kepada para pemuda untuk tidak mendengarkan dua syubhat yang buruk berikut

1.Syubhat yang pertama
(perkataan mereka):
Hendaknya kita membaca berbagai kitab dan bermajelis dengan ahlul bid'ah kemudian kita ambil dari mereka yang benar serta kita tinggalkan yang salah!!!
Syubhat ini memainkan peranan yang besar dalam menjerumuskan banyak pemuda dan mengeluarkan mereka dari manhaj salafy kemudian mencampakkan mereka ke dalam dekapan ahlul bathil dan bid'ah, orang yang malang ini membaca kitab-kitab ahlul bid'ah sedangkan dia tidak mampu membedakan antara yang haq dengan yang batil, maka dia memandang  kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran sehingga ia tersesat.

2. Syubhat kedua:
Jangan kalian membaca kitab-kitab bantahan (terhadap ahlul bathil)!!
-Kitab bantahan..
-Kitab bantahan..
-Kitab bantahan..

Yakni maknanya kita membaca kitab-kitab bid'ah!!
Dan kitab-kitab yang menyerang dan mencela manhaj salafy serta orang-orang yang berpegang dengannya?!!
Dan kita juga mendengarkan kaset-kaset mereka, radio-radio mereka, media-media mereka dan semua yang mereka sebarkan?!!
Kita membiarkan diri kita menjadi alat untuk menerima semua perkara ini akan tetapi penglihatan-penglihatan kita tidak pernah mengenal kitab-kitab bantahan!! Mengapa begitu?!!
Karena kitab-kitab tersebut akan menyingkap kedok mereka dan menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka dan menjadikan para pemuda mengetahui al haq,

sehingga mereka berkata:
-kitab bantahan !!
-kitab bantahan !!
-kitab bantahan !!

Mereka mengajakmu untuk membaca kitab-kitab bid'ah dengan syubhat mereka "engkau membaca dan mengambil yang benar dan tinggalkan yang batil"
Maka engkau - yang malang ini - menjadi korban kebatilan, dikarenakan engkau tidak mampu membedakan antara al haq dengan al bathil, maka engkau melihat al haq sebagai kebathilan dan kebathilan sebagai sesuatu yang haq, inilah perkara yang mereka berhasil menyimpangkan dengannya orang-orang yang hanya Allah yang bisa menghitung banyaknya, dari mereka yang dahulu berada di atas manhaj salaf

di tulis :

Al-Ustadz Abu ahmad purwokerto

Rabu, 21 Oktober 2015

HAL PERTAMA YANG SEBAIKNYA DIAJARKAN KEPADA ANAK

HAL PERTAMA YANG SEBAIKNYA DIAJARKAN KEPADA ANAK

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud:

Apabila sudah waktunya bagi anak untuk berbicara maka hendaknya didiktekan kalimat: لا إله إلا الله, محمد رسول الله agar hal yang pertama mengetuk pendengaran mereka adalah pengenalan kepada Allah subhanahu

juga didiktekan perkara tauhid, dan bahwa Ia – subhanahu– di atas ‘arsynya melihat kepada mereka dan mendengar perkataan- perkataan mereka, Ia selalu mengawasi mereka di mana saja berada. Dahulu Banu Israil sering kali menamakan anak-anak mereka dengan: عمانويل  (Imanuel), makna kata ini adalah: Tuhan bersama kita.

 Oleh karena itu nama yang paling dicintai Allah:  عبد الله dan عبد الرحمن; supaya apabila anak mulai faham dan berakal dia mengetahui bahwa dia adalah hamba Allah, dan Allah adalah tuhannya dan maulanya.


Ahli bahasa :

Al-ustadz abu ahmad purwokerto

MUNGKINKAH BERSATU APABILA BERBEDA MANHAJ DAN AQIDAH

MUNGKINKAH BERSATU APABILA BERBEDA MANHAJ DAN AQIDAH?

Asy Syaikh Shalih Al Fauzan – hafizhahullah

Tanya:
Apakah mungkin terjadi persatuan apabila berbeda manhaj dan aqidah?

Jawab:
Tidaklah mungkin akan terjadi persatuan apabila berbeda manhaj dan aqidah, dan sebaik-baiknya bukti (akan hal tersebut – pent) adalah kenyataan yang terjadi pada bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul – shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana mereka dahulu saling berpecah belah dan bermusuh-musuhan, namun ketika mereka masuk ke dalam agama Islam, bersama-sama di bawah naungan bendera tauhid, aqidah mereka satu dan manhaj mereka satu, maka kalimat mereka pun bersatu serta negara mereka pun menjadi tegak. Dan Allah telah mengingatkan mereka akan hal tersebut dalam firmanNya ta’ala:
 { وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا } [ آل عمران:103 ].
“dan ingatlah akan nikmat Allah atas kalian ketika kalian dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah persatukan hati-hati kalian, lalu dengan nikmat Allah kalian menjadi orang-orang yang bersaudara” [Ali ‘Imron : 103].
Dan Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya – shallallahu ‘alaihi wa sallam - :

{ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
} [ الأنفال:63 ].

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah lah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” [Al Anfal: 63]
Dan Allah – subhanah – selamanya tidak akan mempersatukan antara hati-hati orang-orang kafir, orang-orang murtad dan kelompok-kelompok sesat (1), akan tetapi Allah mempersatukan antara hati-hati orang-orang yang beriman dan bertauhid, Allah – ta’ala - berfirman tentang orang-orang kafir dan munafiq yang menyelisihi manhaj Islam dan aqidahnya:

{ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ } [ الحشر:14 ].

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al Hasyr: 14]
Dan Allah – ta’ala – berfirman:

{ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (11) إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ } [ هود:118-119 ]،

“Dan mereka akan senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang dirahmati Rabb-mu” [Hud: 118-119]
“kecuali orang-orang yang dirahmati Rabb-mu” yaitu orang-orang yang beraqidah benar, dan bermanhaj benar, maka merekalah yang akan selamat dari perselisihan
Maka orang-orang yang berusaha untuk mempersatukan manusia bersama dengan adanya kerusakan aqidah dan perbedaan manhaj maka telah mengusahakan sesuatu yang mustahil, karena mengumpulkan dua hal yang saling bertentangan adalah mustahil.
Maka tidak ada yang bisa mempersatukan hati, dan mempersatukan kalimat, selain kalimat At Tauhid (2) (yaitu kalimat: la ilaha illaLlah - pent), apabila difahami maknanya, dikerjakan segala konsekuensinya secara zhahir (nampak) ataupun bathin (tersembunyi), bukan hanya mengucapkannya namun menyelisihi hal-hal yang terkandung padanya, karena apabila ini yang terjadi maka tidaklah bermanfaat kalimat tersebut.

__________________________
Catatan kaki dari Asy Syaikh Jamal bin Furaihan Al Haritsy:
(1) keadaan kelompok-kelompok dan golongan-golongan yang ada di medan dakwah pada saat ini – sebagaimana diungkapkan – adalah bukti dan petunjuk terbesar (atas benarnya apa yang disebutkan Syaikh – pent), mereka berselisih dalam memahami Al Kitab (Al Qur`an – pent), mereka menyelisihi Al Kitab, sedangkan hati apabila saling sepakat dan saling mengenal satu sama lain maka akan bersatu, demikian pula sebaliknya.
Sebagaimana kriteria ini telah datang penyebutannya melalui lisan Nabi kita – shallallahu ‘alaihi wa sallam – dalam sebuah hadits yang shahih, beliau – shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( الأرواحُ جنودٌ مُجندة، فما تعارفَ منها ائتلف، وما تَناكر منها اختلف ). البخاري (315.
“Ruh-ruh itu seperti sekelompok pasukan yang dikerahkan, maka yang saling cocok di antara mereka akan bersatu, adapun yang saling bertentangan  akan berselisih” HR Al Bukhary: 315
(2) Orang-orang yang berusaha untuk mempersatukan manusia bersama dengan adanya kerusakan aqidah dan perbedaan manhaj – sebagai contoh saja bukan sebagai pembatasan – pada zaman kita sekarang ini: kelompok Al Ikhwanul Muslimin, tergabung dalam barisan mereka: Rafidhi, Jahmi, Asy’ari, Khariji, Mu’tazili, demikian pula orang Kristen, jangan lupakan itu.
Dan telah para pembaca lewati di dalam kitab ini perkataan para ulama mengenai kelompok Al Ikhwanul Muslimin, bagaimana mereka tidak menaruh perhatian terhadap dakwah kepada tauhid, dan tidak pula memperingatkan dari kesyirikan.
Demikian pula sifat ini termasuk karakteristik kelompok Tabligh, dan tidaklah pemahaman ikhwani, yaitu ikhwani quthbi merupakan sesuatu yang jauh dari mereka.

Sumber: Kitab Al Ajwibah Al Mufidah ‘anil Manahij Al Jadidah, cetakan Darus Salafiyyah hal 225-226


Alih Bahasa: 
Al-ustadz Abu Ahmad Purwokerto

TINGGALKAN DUSTA WALAU HANYA BERCANDA

TINGGALKAN DUSTA WALAU HANYA BERCANDA


عن معاوية بن حيدة رضي الله عنه: عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ويل للذي يحدث فيكذب ليضحك به القوم ويل له ويل له . تخريج السيوطي"

Dari Mu’awiyyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu: dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Celaka bagi orang yang berbicara kemudian berdusta untuk membuat kaum tertawa dengannya, celaka baginya celaka baginya”  
HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzy, Al Hakim.dihasankan Al Albany


عن أبي أمامة رضي الله عنه: عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أنا زعيم بيت في ربض الجنة لمن ترك المراء و إن كان محقا ، و بيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب و إن كان مازحا ، و بيت في أعلى الجنة لمن حسن خلق " .

Dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu: dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku menjamin dengan suatu rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia yang benar, dan suatu rumah di pertengahan surga bagi orang yang meninggalkan dusta walupun bercanda, dan suatu rumah di surga tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya” 
HR. Abu Dawud dihasankan Al Albany.

paedah dari :
Al-ustadz abu ahmad

PILIHAN-PILIHAN