Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

cari artikel lainnya

Ingin pasang widget seperti ini? KLIK DISINI

Tampilkan postingan dengan label AKIDAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKIDAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2016

Racun Mematikan itu Bernama Pluralisme Agama

Racun Mematikan itu Bernama Pluralisme Agama

Racun Mematikan itu Bernama
PLURALISME AGAMA

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. (Fatwa MUI nomor 7/Munas VII/MUI/11/2005). MUI kemudian menegaskan bahwa pluralisme agama hukumnya haram dan merupakan paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Pluralisme agama di Indonesia secara intensif telah dijajakan sejak dahulu. Ibarat barang dagangan, pluralisme agama bukan termasuk yang tidak laku di pasaran. Tidak hanya muslim awam, produk pemikiran yang diusung oleh para penganut paham liberalisme ini bahkan telah berhasil mempengaruhi kalangan intelektual muslim.
Ahmad Wahib adalah satu di antara aktor peletak dasar pemikiran pluralisme agama di Indonesia. Namanya dikenal sebagai salah satu tokoh pembaharu Islam (baca: suka mengada-adakan ide dan gagasan baru yang nyeleneh dalam syariat Islam). Catatan hariannya telah dibukukan dengan judul ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ pada tahun 1981. Dalam catatan hariannya tersebut disebutkan bahwa ketika tinggal di Yogya, lelaki kelahiran Sampang, Madura tahun 1942 ini tinggal di Asrama Mahasiswa Realino, asrama calon-calon pastur Katolik. Dalam pergaulan bersama para romo Katolik dan teman seasramanya tersebut, ia merasa sangat bahagia. Sampai-sampai ia mengatakan, “Aku tak yakin, apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka.”
Pernyataan Ahmad Wahib di atas tentu sangat membahayakan akidah orang Islam. Secara langsung atau tidak, seorang muslim yang terpengaruh dan mengamini pernyataan Ahmad Wahib tadi akan tergiring untuk mengingkari wahyu Allah (artinya), “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 39). Dan ayat-ayat lainnya yang semakna.
Dalam usianya yang relatif masih muda, Ahmad Wahib pun menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat tertabrak sepeda motor pada tahun 1973. Dengan ditutupnya lembaran hidup sang pluralis satu ini, apakah kemudian laju perkembangan ideologi pluralisme akan terhenti?

Pluralisme Agama: Promosi Tiada Henti

Kader pegiat ‘dakwah’ pluralisme agama tidak akan pernah berhenti walaupun para pendahulunya telah mati. Tongkat estafet seruan pluralisme agama pun dipegang dan dilanjutkan oleh tokoh-tokoh yang siap menebarkan racun pemikirannya ke tubuh umat Islam. Pernyataan yang dilontarkan oleh generasi penerusnya tidak kalah ekstrim dibandingkan dengan pendahulunya.
Sebut saja nama misalnya Sumanto al-Qurtuby. Dalam bukunya yang berjudul ‘Lubang Hitam Agama’, pria lulusan program Pasca Sarjana Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tahun 2003 ini mengatakan, “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang antara lain, Jesus, Muhammad, Shahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir.” Ghandi yang hindu, Luther, Romo Mangun, Jesus, Bunda Teresa yang kristen kafir menurut Jumanto berada di surga.”

Para pembaca rahimakumullah. Coba Anda bandingkan pernyataan pluralisme di atas dengan firman Allah yang sering dibaca oleh para imam di masjid muslimin (artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari ahli Kitab (Yahudi dan Nashara) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)
Senada dengan perkataan Sumanto al-Qurtuby di atas adalah apa yang diungkapkan oleh Masdar F. Mas’udi, salah seorang petinggi ormas Islam di negeri ini yang mengatakan bahwa surga itu bukan hanya milik satu agama.
Kalau demikian, -menurut pria yang akrab dipanggil Kang Masdar ini-, selain agama Islam pun diridhai dan diterima oleh Allah dan para pemeluknya bakal masuk surga. Kalau yang dikatakan Kang Masdar seperti itu, maka tidak demikian apa yang difirmankan oleh Allah (artinya), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19) “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
Betapa jelas dan gamblangnya aqidah Islam. Al-Qur’an yang telah ditegaskan sendiri oleh Allah sebagai sebuah kitab yang laa rayba fiih (tidak ada keraguan padanya) menyatakan bahwa hanya Islam yang benar, hanya Islam yang diterima di sisi Allah, orang yang mati kafir dan tidak berislam maka ia akan kekal di neraka.

Mereka Pun Juga Bisa Berdalil

Ajakan kepada pluralisme agama yang didengungkan oleh kaum liberalis di negeri ini dilakukan bukan tanpa dalil. Ayat Al-Qur’an yang biasa mereka jadikan dalil (baca: dalih) untuk menjajakan ideologinya tersebut di antaranya adalah surah Al-Baqarah ayat ke-62 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Jika ayat ini dibaca dan dipahami sepotong-sepotong, maka benar bahwa orang Yahudi dan Nasrani bakal mendapat pahala dan masuk surga bersama. Namun jika ayat ini dibaca secara utuh dan dipahami dengan akal yang jernih sebagaimana dipahami oleh murid-murid Rasulullah yaitu para shahabat, maka justru ayat ini sebagai sanggahan terhadap paham pluralisme agama dan para pengusungnya. Dalam ayat ini, Allah tidak menggeneralisir umat Yahudi dan Nasrani secara mutlak yang dijanjikan pahala dari-Nya. Akan tetapi Allah memberikan batasan bahwa orang Yahudi dan Nasrani yang akan mendapatkan pahala adalah yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh.
Realitanya sekarang, apakah orang-orang Nasrani pantas dikatakan benar-benar beriman kepada Allah? Apakah patut disebut sebagai mukmin bagi orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Isa bin Maryam? Atau menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai salah satu dari Tuhan yang tiga (Trinitas)? Apakah bisa dibenarkan menyebut para penyembah salib itu sebagai orang yang beriman? Jelas mereka bukan mukmin. Bahkan secara tegas Allah telah memberikan vonis kafir kepada mereka dalam ayat-Nya (artinya), “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam” (Al-Maidah: 72) “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga (tuhan)“, padahal sekali-kali tidak ada Yang berhak disembah selain (Allah) Sesembahan Yang Maha Esa.” (Al-Maidah: 73)
Demikian juga umat Yahudi. Apakah mereka layak untuk dimasukkan ke dalam jajaran orang yang benar-benar beriman dan beramal saleh? Perhatikan rekam jejak kehidupan mereka. Kejahatan segolongan manusia yang pernah diubah rupa mereka menjadi kera dan babi ini telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Mulai dari menyembah patung anak lembu hingga pembunuhan terhadap para nabi, dan mengatakan Uzair anak Allah!! adalah contoh tindakan keji yang pernah mereka lakukan. Para nabi saja dibunuh, apalagi yang selainnya. Maka tidaklah mengherankan jika orang-orang Yahudi di masa kini banyak membunuhi umat Islam dengan biadab, seperti yang dialami saudara-saudara kita di negeri Palestina. Semoga Allah segerakan kehancuran kaum Yahudi di seluruh dunia.
Ayat ke-256 surat Al-Baqarah yang artinya “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” juga kerap dijadikan dalil oleh para penebar racun pluralisme agama. Namun, ternyata ayat ini pun justru juga sebagai keterangan yang jelas tentang batilnya paham pluralisme agama. Silakan pembaca lihat buletin kami edisi 27 1436 H yang membahas tentang permasalahan ini.

Umat Islam Tidak Pernah Ragu, Agama Yang Benar Hanya Satu

Saudara pembaca yang semoga dirahmati Allah. Di akhir tulisan ini, kami mengajak diri kami dan segenap umat Islam untuk tetap memegang teguh keyakinan bahwa hanya Islam sajalah satu-satunya agama yang benar dan diridhai oleh Allah. Mari kita tanamkan prinsip ini ke dalam hati sanubari kita sedalam-dalamnya. Tidak ketinggalan, kita ajarkan asas keimanan ini kepada keluarga kita, anak cucu kita, dan segenap masyarakat muslimin, terkhusus generasi muda, yang di tangan merekalah tongkat estafet perjuangan Islam ini akan diberikan.
Siang dan malam kaum liberalis senantiasa mempropagandakan ide pluralismenya di tengah-tengah umat. Berbagai cara dengan beragam media pula, mereka menjajakan ideologinya tanpa mengenal lelah. Maka umat Islam harus waspada dan hati-hati dari paham pluralisme agama tersebut. Jangan sampai menggerogoti pola pikir kita, saudara, anak, dan cucu kita. Jangan biarkan virus pluralisme agama menebarkan penyakit yang bisa mematikan akidah dan iman orang-orang yang kita cintai.
Sungguh betapa hancur hati orang tua melihat putra putri kesayangannya telah memilih agama lain lantaran paham pluralisme agama telah meracuni tubuhnya. Pembaca, tentu Anda sendiri juga tidak akan rela ketika orang-orang di sekitar Anda, atau keluarga Anda sendiri ada yang murtad meninggalkan Islam karena keyakinan bahwa semua agama sama. Maka dari itu, jangan biarkan racun pluralisme agama terus menyebar di tubuh umat Islam. Tanamkan keyakinan yang kuat bahwa hanya Islam sajalah yang benar. Agama selain Islam batil, dan pemeluknya adalah kafir yang akan sengsara hidup kekal di neraka jika ia mati tetap di atas kekafirannya. Rasulullah bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.
“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang (risalah)ku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang aku diutus dengannya tersebut, melainkan ia akan menjadi penduduk neraka.” (HR. Muslim no. 218)
Ya Allah sungguh kami ridha Engkau sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi kami. Kokohkanlah kami di atas agama-Mu, Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dengan meraih limpahan ridha-Mu.
Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah

Selasa, 22 Maret 2016

Bukan Radikalisme Dan Bukan Liberalisme

Bukan Radikalisme Dan Bukan Liberalisme!!

Bukan Radikalisme Dan Bukan Liberalisme!!

Radikalisme dan Liberalisme
 
Radikalisme dalam kehidupan beragama amat berbahaya. Modusnya adalah bersikap ekstrim dalam menjalankan agama hingga melampaui batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Radikalisme menyentuh sebagian lapisan umat, termasuk di bumi nusantara ini. Sebagian mereka ada yang jatuh dalam perangkap orang-orang radikal. Tak heran, bila fenomena takfir (mudah mengafirkan) merebak. Akibatnya, pemerintah dan orang-orang yang terkait dengan pemerintahan dikafirkan. Bahkan, berbagai teror pun kerap terjadi dan banyak memakan korban. Namun di sisi yang lain, fenomena sikap ektrim radikalisme tersebut ada yang melawannya dengan sikap ekstrim lainnya, yaitu liberalisme. Sebuah sikap bermudah-mudahan dalam kehidupan beragama yang bertolak belakang secara total dengan radikalisme. Akibatnya, bermunculan paham bahwa semua agama benar dan semuanya “memusuhi” radikalisme. Pada perkembangannya, muncul pernyataan-pernyataan bahwa “semua agama sama”, “semua menyembah kepada Tuhan yang sama walaupun masing-masing agama menyebutnya dengan nama berbeda”. “Jangan terikat dengan simbol-simbol, tapi perhatikan esensi maknanya.” Bahkan kaum liberalis menuding, keyakinan bahwa agama Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, itulah penyebab munculnya radikalisme-terorisme. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Sungguh semua itu adalah penistaan terhadap agama Islam yang dibawa oleh Baginda Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (artinya),
Barangsiapa mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Selain agama Islam adalah tidak sah, yakni batil dan bukan agama yang benar. Semua rasul utusan Allah mengajak umatnya untuk beribadah hanya kepada Allah  Ta’ala, dan meninggalkan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah. Sebagaimana firman Allah tentang kisah dakwah para rasul tersebut, “Wahai kaumku beribadahlah kalian kepada Allah, tidak ada bagi kalian sembahan yang haq selain-Nya.” Para rasul tersebut datang kepada kaum yang menyembah tuhan sesuai dengan agamanya masing-masing.  Para rasul itu tidak mengatakan bahwa tuhan pada semua agama itu hakekatnya satu. Namun mereka memerintahkan agar meninggalkan tuhan-tuhan tersebut, dan hanya beribadah kepada Allah satu-satunya tiada sekutu bagi-Nya.
Allah juga berfirman, (artinya) :
Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (sembahan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itu adalah batil, dan sesungguhnya Allah Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (al-Hajj : 62)
Jadi, semua tuhan selain Allah adalah batil. Semua agama selain Islam tidak beribadah kepada Allah, namun beribadah kepada tuhan-tuhan mereka selain Allah. Itu semua batil, dan hanyalah nama-nama yang diklaim sebagai tuhan, padahal tidak pantas sebagai tuhan. Allah Ta’ala berfirman (artinya),
Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan bapak-bapak kalian mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (an-Najm : 23)
 
Meledek Syi’ar Islam
 
Banyak pihak – termasuk orang-orang liberal – menuding, bahwa jenggot, celana cingkrang, gamis panjang, jilbab bercadar, sebagai ciri-ciri teroris. Tentu saja ini merupakan tudingan yang sangat jauh dari kebenaran, di samping kental dengan nuansa tendensius  dan menunjukkan minimnya kualitas ilmu “sang intlektual” pengucapnya. Pada perkembangan berikutnya, muncul doktrin bahwa semua yang berasal dari Islam adalah radikal. Terlebih yang bernuansa bela agama alias jihad fi sabilillah yang sudah barang tentu ada aturannya yang tepat dan tidak serampangan.
 
Teror Pemikiran Lebih Berbahaya
 
Berbagai aksi kekerasan dan teror, berupa pengeboman, pembunuhan, dan lainnya yang terus marak terjadi, bahkan berhasil menjaring anak-anak muda kaum muslimin menjadi pelaku-pelaku utama dan militan, tidaklah terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Namun melalui proses panjang propaganda dan penyebaran pemikiran melalui berbagai cara dan media. Inilah yang disebut dengan teror pemikiran, dan ini lebih berbahaya daripada teror fisik. Jika pada teror fisik dampaknya adalah terbunuhnya jiwa, hilang harta, dan rusaknya bangunan dan fasilitas, maka teror pemikiran lebih kejam lagi, karena korbannya berupa : matinya hati, aqidah sesat dan menyimpang, dan lahirnya para teroris yang kejam dan militan. Bahkan semua aksi teror, pengeboman, pengafiran terhadap sesama muslimin, tega menumpahkan darah sesama muslim, menghancurkan masjid, pemberontakan/kudeta bersenjata terhadap pemerintah yang sah, … dll, tidak lain merupakan hasil dari teror pemikiran yang gencar ditebarkan. Demikian pula di lain pihak. Berbagai tulisan dan kampanye yang dilakukan oleh orang-orang Liberal bahwa “semua agama sama”, “jangan meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar”, melecehkan dan meledek syari’at Islam, menghujat nabi, bahkan menghujat Allah, maka itu semua adalah penistaan aqidah dan menghancurkan sendi-sendi dan pondasi iman dan agama, sekaligus itu juga merupakan salah satu bentuk teror pemikiran. Apa yang tengah dikampanyekan oleh kalangan orang-orang Liberal ini sesungguhnya lebih berbahaya daripada penghancuran bangunan dan pembunuhan jiwa. Maka hendaknya para pengusung radikalisme dan liberalisme itu takut kepada Allah. Hentikanlah perbuatan merusak agama dan umat. Allah Ta’ala berfirman (artinya),
“Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi setelah bumi itu diperbaiki.” (al-A’raf : 56)
 
Menanggulangi Radikalisme dan Liberalisme
 
Memang, radikalisme merupakan penyimpangan dan kesesatan. Tapi dalam menanggulanginya tidak dengan liberalisme. Sungguh, liberalisme telah menampilkan Islam jauh dari yang sebenarnya, sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan diwariskan oleh para shabahat Nabi Radhiyallahu ‘anhum. Apabila Radikalisme mencoreng nama Islam dan menyebabkan kerusakan di muka bumi, maka tak kalah juga liberalisme dalam menghancurkan pondasi Islam.  Maka dari itu, kedua paham menyimpang tersebut, radikalisme dan liberalism harus ditanggulangi secara bersamaan. Yaitu, dengan cara kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah diamalkan oleh para shahabat Radhiyallahu ‘anhum. Ini akan terwujud dengan cara, Melakukan pembinaan kepada umat, termasuk kaum mudanya. Hal ini dilakukan di atas prinsip at-Tashfiyah dan at-Tarbiyah.
At-Tashfiyah, yaitu membersihkan dan melindungi umat dari berbagai paham menyimpang dan merusak, seperti Ahmadiyah, Syi’ah, Gafatar, NII, ISIS, Al-Qaida, Liberal … dsb, termasuk radikalisme dan liberalisme itu sendiri. Termasuk di dalamnya pula adalah membantah berbagai propaganda yang ditebarkan oleh kelompok-kelompok tersebut. Demikian pula  memperingatkan umat dari bahaya tokoh-tokoh yang menebarkan paham-paham sesat di atas dan membelanya, serta menebarkan paham takfir (mengkafirkan sesama kaum muslim), mengkritisi pemerintah yang sah secara terbuka, dan menistakan agama.
At- Tarbiyah, yaitu mendidik umat dengan ilmu agama yang benar. Ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdasarkan prinsip para Salaful Ummah.  Mendekatkan umat ini dengan para ‘ulama sunnah, yang senantiasa konsisten berpegang di atas agama yang benar, memiliki aqidah dan tauhid yang bersih dan murni, serta berjalan di atas prinsip para Salaful Ummah, termasuk para imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad.  Menghentikan segala bentuk tindakan kritik terbuka terhadap pemerintah muslim yang sah, karena itu akan menimbulkan dampak negatif yang banyak, salah satunya akan menimbulkan sikap radikal. Sebaliknya, upaya menanamkan kepada umat ini salah satu prinsip penting dalam agama, yaitu ketaatan kepada pemerintah muslim dalam perkara yang ma’ruf, bukan dalam kemaksiatan. Tidak boleh memberontak selama itu adalah pemerintah muslim. Mewaspadai gerakan Syi’ah, karena ia  merupakan gerakan radikal yang sangat ekstrim. Perjalanannya selalu diwarnai kekerasan dan aksi-aksi berdarah. Selalu menebarkan ujaran kebencian kepada para shahabat Nabi yang mulia dan menistakan agama Islam. Sangat disesalkan,  kaum liberal selalu membela, memuji, dan menebarkan simpatik terhadap Syi’ah.  Menanamkan kepada umat bahwa Islam adalah satu-satu agama yang benar, yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin.
 
Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membawa Dienul Islam, sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (Rahmat bagi Alam Semesta). Seabgaiman firman Allah (artinya),
Tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’ : 107)
Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir meriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pakar tafsir umat ini, menjelaskan ayat tersebut, “Barangsiapa yang mengikuti (ittiba’) beliau (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) maka itu menjadi rahmat baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa tidak mau mengikuti beliau maka akan dihukum dengan apa yang menimpa umat-umat sebelumnya berupa ditenggelamkan dan dilempari batu.”
Jadi, misi Islam sebagai rahmatan lil ‘Alamin akan terwujud dengan mengikuti segala ajaran dan bimbingan (sunnah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam segala aspek, baik aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, ekonomi, dll. Bukan malah menanggalkan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena menganggapnya radikal, atau dengan alasan budaya nasional, inklusif, dan lainnya.
Al-Imam Bisyr bin Al-Harits (w. 227 H) berkata, “Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam.” (lihat Syarhus Sunnah, 132)
 
Wallahu a’lamu bish-shawab
Penulis: Ust. Abu ‘Amr Ahmad Alfian

Ad Dabbah Binatang Melata yang Muncul pada Akhir Zaman

Ad Dabbah  Binatang Melata yang Muncul pada Akhir Zaman

Ad Dabbah Binatang Melata yang Muncul pada Akhir Zaman
[Beriman terhadap Hari Akhir (9)]

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, pada edisi kali ini kami insya Allah akan membahas salah satu tanda-tanda besar kiamat, sebagai kelanjutan dari pembahasan yang telah kita lewati pada edisi-edisi sebelumnya. Tanda hari kiamat tersebut adalah keluarnya ad Dabbah (binatang melata) dari bumi.

Waktu Kemunculannya  

Tentang waktu munculnya ad Dabbah ini Allah – subhanahu wa ta’ala – berfirman (yang artinya):
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” (An Naml: 82).
Ada beberapa penafsiran dari para ulama tentang makna الْقَوْلُ (perkataan) pada ayat tersebut. Sebagian menafsirkannya dengan ‘adzab’, apabila manusia telah rusak dan berhak mendapatkan adzab maka ad Dabbah akan keluar dari bumi. Sebagian lagi menafsirkannya dengan ‘murka dari Allah’.

Kapankah umat manusia dikatakan berhak mendapatkan adzab dan murka dari Allah?

Berkata sebagian ulama di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa hal tersebut terjadi ketika manusia sudah tidak lagi mengajak kepada perkara-perkara ma’ruf (kebaikan) dan tidak pula melarang dari perkara-perkara kemungkaran ketika mengetahuinya. Kita berlindung kepada Allah dari adzab dan murka-Nya.
Ulama yang lain menafsirkan الْقَوْلُ dengan ‘bukti-bukti yang nyata dari Allah’, termasuk dalam bukti-bukti yang nyata tersebut adalah tanda-tanda besar kiamat yang telah muncul sebelumnya seperti keluarnya dajjal dan turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam. Setelah ‘bukti-bukti kekuasaan Allah tersebut nampak maka Allah akan mengeluarkan ad Dabbah dari bumi.
Ad Dabbah akan keluar pada akhir zaman, pada saat manusia telah berada dalam keadaan lemah iman dan rusak, sebagaimana yang dijelaskan oleh al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat tersebut, “Binatang melata ini keluar pada akhir zaman ketika manusia telah rusak dan meninggalkan perintah-perintah Allah, serta mereka merubah agama yang benar. Allah mengeluarkan suatu binatang melata dari dalam bumi kemudian mengatakan kepada mereka hal tersebut” (‘Umdatut Tafsir hal 667).
Munculnya ad-dabbah berdekatan dengan waktu terbitnya matahari dari arah barat. Tidak diketahui apakah ad-dabbah muncul terlebih dahulu ataukah terbitnya matahari dari barat. Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَوَّلّ الْآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوْعُ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا
“Sesungguhnya   tanda-tanda (kiamat) yang pertama muncul adalah terbitnya matahari dari arah tenggelamnya (barat) dan keluarnya binatang melata kepada manusia pada waktu dhuha, yang mana saja dari keduanya terjadi terlebih dahulu maka yang lainnya menyusul sesaat setelahnya” (H.R. Muslim no 7570).
Dari hadits tersebut pula, diketahui bahwa kemunculan ad Dabbah tersebut adalah waktu dhuha, yaitu waktu di antara saat naiknya matahari setinggi tombak hingga saat matahari berada di puncak/tengah langit.

Ciri-ciri  ad Dabbah      

Sebagian ulama menyebutkan ciri-ciri ad Dabbah tersebut, namun tidak satu pun ciri-ciri yang disebutkan ditopang oleh dalil baik dari ayat Al Qur`an maupun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Maka cukuplah bagi kita untuk mengimani apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ad Dabbah, tanpa perlu menetapkan ciri-cirinya secara mendetail, karena perkara tersebut termasuk hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dari wahyu berupa ayat Al Qur`an ataupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
Al ‘Allamah As Sa’dy berkata dalam lanjutan tafsir ayat 82 dari surat An Naml di atas: “Allah dan Rasul-Nya tidaklah menyebutkan bagaimana wujud binatang melata ini, akan tetapi beliau menyebutkan dampak dan maksud dari dikeluarkannya binatang tersebut. Bahwasanya ia adalah termasuk dari tanda-tanda kekuasaan Allah, ia berbicara kepada manusia dengan cara yang di luar kebiasaan ketika telah jatuh ketetapan atas mereka, dan ketika mereka meragukan ayat-ayat Allah, hingga ia menjadi hujjah dan bukti bagi orang-orang yang beriman dan hujjah atas orang-orang yang menentang” (Tafsir As Sa’dy hal. 581)

Tempat keluarnya          

Ulama juga berbeda pendapat tentang tempat keluarnya ad Dabbah tersebut. Sebagian dari pendapat tersebut didasarkan pada hadits yang sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada yang didasarkan pada perkataan shahabat, hanya saja baik hadits maupun atsar shahabat tersebut tidak ada yang shahih.
Walhasil, tidak ada suatu hadits shahih atau atsar shahih yang bisa menjadi dasar untuk menentukan di mana tempat keluarnya ad Dabbah tersebut. Maka sekali lagi sikap yang benar bagi kita adalah hendaknya kita mengimani tentang keluarnya ad Dabbah, adapun mengenai di mana tempat keluarnya maka hal itu adalah urusan Allah dan kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

Apa saja yang dilakukan ad Dabbah?   
     
Adapun tentang hal-hal yang dilakukan ad Dabbah, maka pada permasalahan ini telah datang pengabaran dari ayat Al Qur`an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Ulama menyimpulkan bahwa yang akan dilakukan ad Dabbah ada tiga hal:
1. Berbicara kepada manusia
2. Memberi tanda kepada orang-orang kafir.
3. Memberi tanda kepada kaum mukminin, membuat terang wajah mereka hingga bersinar cemerlang.
Pada ayat An Naml: 82 yang telah kita lewati, Allah – subhanahu wa ta’aa – berfirman (yang artinya):
Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” (An Naml: 82).

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam penafsiran lafazh “تُكَلِّمُهُمْ” pada ayat tersebut.

Pendapat pertama: mengajak bicara mereka (manusia), dan ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dalam satu riwayat, al Hasan al Bashri, Qatadah, dan diriwayatkan dari Ali.

Pendapat yang kedua: melukai mereka, yakni orang-orang kafir diberi tanda pada hidung mereka dengan cara melukainya. Ini adalah penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam riwayat yang lain.
Penafsiran ini sesuai dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Ahmad rahimahullah dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Akan keluar ad Dabbah kemudian memberikan tanda pada hidung-hidung mereka (yakni orang-orang kafir – pent) maka mereka akan hidup di antara kalian, sampai-sampai ketika seseorang membeli binatang ternak kemudian dia ditanya: dari siapa engkau membelinya? Maka dia menjawab: dari orang yang memiliki tanda pada hidungnya”. Hadits ini dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albany rahimahullah.
Hadits ini menunjukkan bahwa pada saat ad Dabbah tersebut keluar, maka ia akan memberikan tanda yang nampak jelas pada hidung orang-orang kafir sampai-sampai mereka dapat dikenali manusia dengan tanda tersebut.
Pendapat ini cocok dengan qiraah (riwayat bacaan) Abu Zur’ah ibn ‘Amr atas ayat An Naml: 82 tersebut, di mana beliau meriwayatkan ayat tersebut dengan lafazh “تَكْلَمُهُمْ” yang bermakna melukai.

Pendapat yang ketiga: bahwa lafazh “تكلمهم” memiliki kedua makna yang telah disebutkan pada kedua pendapat di atas, ini berarti ad Dabbah ketika keluar mengerjakan dua hal tersebut, mengajak bicara manusia dan juga memberikan tanda dengan melukai orang-orang kafir. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dalam satu riwayat.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah menyifati pendapat ketiga ini: “Itu adalah pendapat yang bagus, dan tidak ada pertentangan”. Yang beliau maksudkan adalah tidak ada pertentangan antara pendapat pertama dengan pendapat kedua.
Adapun tentang perbuatan ad Dabbah yang akan memberikan tanda berupa cahaya pada wajah orang-orang yang beriman adalah berdasarkan suatu hadits yang diperselisihkan keshahihannya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah, At Tirmidzy, dan Al Imam Ahmad rahimahumullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):
“Ad Dabbah akan keluar bersama cincin Sulaiman bin Dawud, dan tongkat Musa bin ‘Imron ‘alaihimassalam, kemudian ia akan memberi cahaya pada wajah orang yang beriman dengan tongkat serta menandai hidung orang kafir dengan cincin, sampai-sampai orang-orang yang mengitari meja makan berkumpul kemudian berkata salah seorang dari mereka (kepada orang yang bersinar wajahnya): wahai orang beriman, lalu ia menjawab kepadanya (orang yang memiliki tanda di hidungnya): wahai orang kafir”, yaitu orang-orang ketika itu saling mengenali siapa yang beriman di antara mereka, dan siapa yang kafir dengan tanda yang dibuat ad Dabbah tersebut.
Hadits ini digolongkan oleh Al ‘Allamah Al Albany sebagai hadits yang dha’if, adapun Asy Syaikh Ahmad Syakir maka beliau menshahihkannya, wallahu a’lam bis shawab.

Perkataan yang disampaikan oleh ad Dabbah      

Sebagaimana dalam ayat An Naml: 82 di atas, ketika keluarnya ad Dabbah akan mengajak bicara manusia. Lalu apa perkataan yang akan disampaikannya?
Sebagian ulama mengatakan bahwa ad Dabbah akan berkata pada manusia bahwa sesungguhnya mereka dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam lafazh ayat tersebut. Dan di antara ayat-ayat Allah adalah tanda-tanda hari kiamat yang telah dikabarkan kemunculannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah keluarnya ad Dabbah. Ini menunjukkan bahwasannya seorang mukmin haruslah benar-benar beriman kepada tanda-tanda kiamat tersebut tanpa ada keraguan sedikit pun di dalam hati.
Sebagian lagi berkata bahwa ad Dabbah akan menyampaikan kepada manusia bahwa seluruh agama selain Islam adalah agama yang bathil. Ulama yang lain berpendapat bahwa ad Dabbah akan berbicara kepada orang-orang kafir dengan perkataan buruk yang tidak menyenangkan mereka. Demikianlah sekelumit pembahasan tentang binatang melata yang akan muncul pada akhir zaman, mudah-mudahan dapat memperkuat keimanan kita kepada hari kiamat yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawab
Penulis: Ustadz Abu Ahmad Purwokerto

PILIHAN-PILIHAN