Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

cari artikel lainnya

Ingin pasang widget seperti ini? KLIK DISINI

Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2015

MARI MENUNTUT ILMU

Mari Menuntut Ilmu…!!!

Mari menuntut ilmu
Para pembaca rahimakumullah
Mengingatkan kembali tentang pentingnya ilmu syar’i bagi kehidupan seorang muslim. Bahkan kebutuhan seorang muslim terhadap ilmu agama Islam melebihi kebutuhan dia terhadap makanan dan minuman. Namun sangat disayangkan sebagian kaum muslimin sudah kurang peduli dengan amalan yang mulia ini yaitu mempelajari ilmu syar’i. Hal ini terjadi, di antaranya disebabkan kesalahan dalam memahami makna ilmu yang disebutkan dalam hadits nabi. Sebagian memahami bahwa yang dimaksud dengan ilmu yang wajib dipelajari adalah bersifat umum baik ilmu agama maupun ilmu umum. Padahal tidak demikian, sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
Para pembaca rahimakumullah.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu syar’i yaitu ilmu tentang agama Islam yang mencakup perkara akidah, ibadah, akhlak dan berbagai sendi agama yang lainnya. Bukanlah yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan dengan dunia seperti teknik, kedokteran, ekonomi, matematika, informatika dan lain sebagainya.
Kedudukan Ilmu Syar’i
Allah berfirman: “Dan tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi sebagian dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan untuk kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. at-Taubah: 122) Dalam ayat ini Allah menjadikan amalan menuntut ilmu sama tingkatannya dengan amalan jihad di jalan Allah dan bahkan lebih utama dari jihad. Dikarenakan seorang tidak akan bisa menegakkan jihad, shalat, zakat, puasa, haji, umroh, dan ibadah-ibadah yang lainnya secara benar kecuali dengan ilmu. Maka ilmu merupakan pokok segala sesuatu, oleh karena itulah Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan maka Allah akan fahamkan ia tentang agama.” (HR. al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1719)(Syarh Riyadhus Shalihin lil ‘Utsaimin juz 2, hlm. 1470)
Keutamaan Ilmu Syar’i
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits nabi serta ucapan para salaf banyak sekali yang menyebutkan tentang keutamaan ilmu syar’i. Dan pembahasan mengenai keutamaan ilmu syar’i juga mencakup keutamaan orang-orang yang berilmu. Berikut ini adalah beberapa kesimpulan tentang keutamaan ilmu syar’i:
1. Ilmu merupakan warisan para nabi.
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan harta benda kepada umatnya, namun mereka mewariskan ilmu. Rasulullah bersabda:
إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut berarti ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud no. 3641, at-Tirmidzi no. 2683 dan Ibnu Majah no. 223)
2. Ilmu merupakan amalan yang paling utama
Datang seorang laki-laki kepada Abdullah bin Mas’ud dan berkata, “Wahai Abu ‘Abdirrahman, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu”. Kemudian laki-laki tersebut kembali bertanya, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Ilmu”. Laki-laki tersebut berkata, “Aku bertanya kepadamu tentang amalan apakah yang paling utama namun engkau menjawab ilmu”. Maka Abdullah bin Mas’ud berkata, “Celaka kamu, sesungguhnya berilmu tentang Allah akan memberikan manfaat kepadamu dengan sedikit dan banyaknya amal, sedangkan kebodohan tentang Allah maka tidak akan memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sedikit dan banyaknya amal.” (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Bathal juz 1, hlm. 133)
3. Ilmu merupakan amalan yang pahalanya terus mengalir kepada pemiliknya walaupun telah meninggal dunia. Rasulullah bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal dunia maka akan terputus darinya amalannya kecuali 3 perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 4843)
4. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di dunia dan akhirat.
Di akhirat, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu sesuai dengan besarnya amalan dan dakwah yang dilakukannya. Demikian pula di dunia, Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu di antara hamba-hamba-Nya sesuai dengan besarnya amalan dan dakwah yang dilakukannya. Berdasarkan firman Allah : “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11) Zaid bin Aslam menafsirkan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 76: “Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki,” yaitu (diangkat) dengan ilmu. (Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Bathal juz 1, hlm. 133)
5. Rasulullah tidaklah membolehkan seseorang untuk iri atas kenikmatan yang Allah berikan kepada seorang hamba kecuali kepada 2 golongan yaitu orang berilmu yang mengamalkan ilmunya dan orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Rasulullah bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh iri kecuali kepada 2 golongan: orang yang diberikan nikmat oleh Allah berupa harta yang kemudian dibelanjakan di jalan kebenaran dan orang yang diberikan nikmat oleh Allah berupa ilmu yang kemudian diamalkan dan diajarkan kepada yang lainnya.” (HR. al-Bukhari no. 71)
6. Ilmu merupakan cahaya yang akan menerangi kehidupan seorang hamba.
Dengan ilmu yang dimiliki oleh seorang hamba, dia akan mengetahui tentang tata cara beribadah kepada Rabbnya, bermuamalah dengan sesama manusia dan sebagainya. Sehingga ia pun menjalani kehidupannya di atas ilmu. (Syarh al-Ushul as-Sittah hlm. 166)
7. Orang yang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah. Allah berfirman: “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28)
8. Orang yang berilmu adalah orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah Rasulullah bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki dengannya kebaikan maka Allah akan fahamkan ia tentang agama.” (HR. al-Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1719)
9. Orang yang menuntut ilmu akan dipermudah jalannya menuju surga Rasulullah bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 4867)
10. Penduduk langit dan penduduk bumi serta hewan air akan memintakan ampunan kepada orang-orang yang berilmu. Rasulullah bersabda:
وَإِنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي المَاءِ
“Dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan baginya oleh para penduduk langit dan penduduk bumi bahkan hewan yang hidup di air.” (HR. at-Tirmidzi no. 2606 dan Abu Dawud no. 3157)
11. Orang yang berilmu adalah ibarat cahaya yang akan membimbing manusia dalam berbagai urusan agama dan dunianya. Rasulullah bersabda, “Dahulu di zaman orang-orang sebelum kalian tersebutlah seorang yang telah membunuh 99 orang. (Dia pun bermaksud ingin bertaubat) kemudian menanyakan tentang siapakah penduduk bumi yang paling alim. Ditunjukkanlah kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia mendatangi ahli ibadah tersebut dan menceritakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, masih adakah pintu taubat baginya?. Maka dijawab oleh ahli ibadah tersebut, “Tidak ada taubat.” Maka dibunuhlah ahli ibadah tersebut sehingga genap menjadi 100 orang yang telah dia bunuh. Setelah itu dia kembali menanyakan tentang siapakah penduduk bumi yang paling alim (ingin bertaubat lagi). Maka ditunjukkanlah kepadanya seorang yang berilmu. Kemudian dia menceritakan kepadanya bahwa dia telah membunuh 100 orang. Masih adakah pintu taubat baginya?. Maka dijawab oleh orang yang berilmu, “Ya, masih ada kesempatan bertaubat dan siapakah yang menghalangi antaramu dengan taubat?! Pergilah engkau menuju negeri ini dan ini. Karena para penduduknya adalah orang-orang yang beribadah kepada Allah saja maka beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu karena sesungguhnya negerimu adalah negeri yang jelek”. Maka pergilah orang tersebut menuju negeri yang baik hingga ketika baru sampai setengah perjalanan datanglah malaikat maut menjemput ajalnya. Sehingga malaikat rahmat dan malaikat adzab pun berdebat. Malaikat rahmat berkata, “Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah”. Adapun malaikat adzab berkata, “Dia belum pernah beramal kebaikan sedikitpun”. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat dalam rupa manusia sebagai hakim bagi keduanya, seraya berkata, “Ukurlah jarak antara kedua negeri tersebut, jarak manakah yang terdekat maka dialah yang berhak mengambilnya”. Maka diukurlah jaraknya dan ternyata dia lebih dekat kepada negeri yang dia tuju (negeri yang baik). Sehingga malaikat rahmat pun yang berhak mengambilnya.” (HR. Muslim no. 4967)
Wallahu a’lam bish shawab.
Penyusun: Ustadz Muhammad Rifqi

Senin, 02 November 2015

SEBAB DIKOKOHKANNYA ILMU

ﻗﺎﻝ ﻭﻛﻴﻊ : " ﻛﻨﺎ ﻧﺴﺘﻌﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺣﻔﻆ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺎﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ "
Berkata Waki':
" "Dulu kami menjadikan pembantu untuk menghafal hadits dengan mengamalkannya".
ﻋﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﻗﺎﻝ : " ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﺍﻟﺼﻤﺖ ﺛﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﺍﻟﺤﻠﻢ ﺛﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺛﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﺍ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺛﻢ ﺍﻧﺸﺮﻭﺍ "

Dari Jabir bin Abdillah -رضي الله عنه- beliau berkata:
" Pelajarilah diam, kemudian pelajarilah kesantunan, kemudian pelajarilah (bagaimana) mengamalkan ilmu, kemudian sebarkanlah."

ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : " ﻣﺎ ﻛﺘﺒﺖ ﺣﺪﻳﺜﺎً ﺇﻻ ﻭﻗﺪ ﻋﻤﻠﺖ ﺑﻪ ، ﺣﺘﻰ ﻣﺮّ ﺑﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﺣﺘﺠﻢ ﻭﺃﻋﻄﻰ ﺃﺑﺎ ﻃﻴﺒﺔ ﺩﻳﻨﺎﺭﺍً ﻓﺄﻋﻄﻴﺖ ﺍﻟﺤﺠﺎﻡ ﺩﻳﻨﺎﺭﺍً ﺣﻴﻦ ﺍﺣﺘﺠﻤﺖ "
Berkata Imam Ahmad bin Hanbal -رحمه الله- :
"Tidaklah aku menulis sebuah hadits, kecuali aku mengamalkannya (terlebih dahulu). Hingga aku melewati sebuah hadits dimanan Nabi berbekam kemudian memberikan upah satu dinar kepada Abu Thoyybah, maka akupun memberikan satu dinar kepada tukang bekam ketika aku berbekam."

[ Dari kitab: ﺍﻟﺘﺄﺻﻴﻞ ﻓﻲ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ, usul ke-6]

KAUM SALAF DALAM MENCARI GURU UNTUK DIAMBIL ILMUNYA

   قال إبراهيم النخعي رحمه الله  :
كانوا إذا أتوا الرجل ليأخذوا عنه العلم نظروا إلى صلاته و إلى سنته وإلى هيئته ثم يأخذون عنه .
: ( أخرجه الدارمي فى سننه ١ / ٣٩٧ ) انظر أصول الدعوة السلفية لشيخ عبد السلام بن برجس ص : ٤٨ )
أبو رقية ابن عبد السلام السلفى
غفر الله له ولوالديه ولجميعلمسلمين...آمين
_______________________________
يوم الأحد ١٩ المحرم ١٤٣٧ هجرية
☝مجموعة الحق أحب إلينا
-------------------------------------
Ibrahim An- Nakha'i  رحمه الله berkata :

 Mereka kaum salaf dahulu apabila mereka mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya, 
Maka mereka akan melihat kepada shalatnya dulu,
Dan melihat kepada sunnah-sunnah yang dia jalankan,
Dan kepada bentuk pengamalannya,
Baru setelah itu dia akan mengambil ilmu darinya"

Dikeluarkan oleh Ad-Darimy dalam Sunannya: 1 / 397    |  Lihat Ushul Ad-Da'watu As-Salafiyahm Syaikh Abdussalam bin Barjas رحمه الله , hal : 33 )

METODE PARA SAHABAT MENGAMBIL ILMU

Mari kita lihat bagimana para generasi penghafal Al Qur’an dan hadits melakukannya. Yunus bin Yazid berkata: Ibnu Syihab berkata kepadaku:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻴﻮﻧﺲ ﺑﻦ ﻳﺰﻳﺪ : " ﻳﺎ ﻳﻮﻧﺲ ﻻ ﺗﻜﺎﺑﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ؛ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻭﺩﻳﺔ ، ﻓﺄﻳﻬﺎ ﺃﺧﺬﺕ ﻓﻴﻪ ﻗﻄﻊ ﺑﻚ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﺒﻠﻐﻪ ﻭﻟﻜﻦ ﺧﺬﻩ ﻣﻊ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ ، ﻭﻻﺗﺄﺧﺬ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺟﻤﻠﺔ ﻓﺈﻥ ﻣﻦ ﺭﺍﻡ ﺃﺧﺬﻩ ﺟﻤﻠﺔ ﺫﻫﺐ ﻋﻨﻪ ﺟﻤﻠﺔ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻣﻊ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﻭﺍﻟﻠﻴﺎﻟﻲ " ‏

“Wahai Yunus, janganlah engkau sombong terhadap ilmu, karena sesungguhnya ilmu itu beberapa lembah. Lembah mana saja yang kau tempuh, niscaya lembah itu akan memutuskanmu sebelum engkau sampai kepadanya. Akan tetapi tempuhlah lembah itu seiring perjalanan hari dan malam. Dan janganlah engkau mengambil ilmu itu sekaligus, karena ilmu itu akan hilang pula darinya sekalihus. Akan tetapi, ambillah sedikit demi sedikit sesuai perjalanan hari dan malam”

[At Ta'shil Fi Tolabil Ilmi. Usul ke-6]

Rabu, 21 Oktober 2015

BERAGAM TUJUAN DALAM MENIMBA ILMU


بسم اللّٰه الرحمن الرحيم

PERMATA SALAF

Beragam Tujuan Dalam Menimba Ilmu

Ibnu Mas'ud رضي اللّٰه عنه berkata:
Janganlah kalian mempelajari ilmu karena tiga hal:

1.Dalam rangka debat kusir dengan orang orang bodoh,
2.Untuk mendebat para ulama,atau
3.Memalingkan wajah wajah manusia ke arah kalian.

Carilah apa yang ada di sisi اللّٰه تعالى dengan ucapan dan perbuatan kalian.
Karena, sesungguhnya itulah yang kekal dan abadi,sedangkan yang selain itu akan hilang dan pergi.
( Jami'ul 'ulum Wal Hikam, 1/45 ).
Ishaq ibnu Ath Thiba رحمه اللّٰه berkata:
.Aku mendengar Hammad bin Salamah رحمه اللّٰه Berkata:
.Barang siapa mencari (ilmu, - pent.) hadits untuk selain اللّٰه تعالى maka اللّٰه akan membuat makar atasnya.

.Waki' رحمه اللّٰه berkata:
▪.Tidaklah kita hidup melainkan dalam suatu tutupan.
Andaikata tutupan tersebut tersingkap, Niscaya akan memperlihatkan suatu perkara yang besar,yakni kejujuran niat.

. Al Hafidz Adz Dzahabi رحمه اللّٰه berkata:
.Menuntut ilmu yang merupakan perkara wajib dan sunnah yang sangat di tekankan,namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang.
Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan,pent.) dengan para ulama, Atau supaya dapat mendebat kusir orang orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia kearahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan,  atau dalam rangka meraih dunia,harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi.

Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan,pent.) bagi mereka,(1)
( An Nubadz fi Adabi Thalabil 'ilmi, hal 10-11 ).
(1).HR, Muslim no 1907 dari Abu hurairoh رضي الله عنه.

Sumber:
Majalah Asy Syariah edisi Vol.111/ No 33/1428 H/ 2007.
Silahkan klik:
www.salafymedia.com

Senin, 19 Oktober 2015

METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU

METODE TEPAT MEMPEROLEH ILMU

 Asy-Syaikh Khalid bin Dhahwi azh-Zhafiri hafizhahullah
--------------------------

Wajib atas Penuntut Ilmu Syar'i untuk memenuhi dua hal, atau bahkan tiga perkara yang merupakan jalan untuk mendapatkan Ilmu.

Tiga perkara tersebut adalah:
1 Membaca.
2 Menghafal.
3 Mendengar
....................................
MEMBACA.
⌚ Hendaknya dia menyediakan waktu untuk membaca kitab-kitab (para ulama, pen). Juga meringkasnya, dan mempelajarinya.
Wajib baginya untuk menyediakan jadwal harian untuk membaca dan memilih kitab yang sesuai dengan kemampuan ilmiyahnya. Janganlah dia beranjak ke kitab dengan tingkatan yang lebih tinggi, sehingga ia mengalami berbagai masalah yang akan kami jelaskan nanti Insya Allah.
.......................................
MENGHAFAL.
Begitupula ia juga harus menyediakan jadwal untuk menghafal.
 Pertama kali yang harus dia hafal adalah Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala. Dia harus bersungguh-sungguh menghafalkan Kalamullah Azza wa Jalla (Al-Quran). Dia harus selalu memiliki hubungan dengan Al-Quran dan punya jadwal untuk membacanya sehingga ia tidak termasuk dalam firman Allah:

(وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا)

Artinya: "Rasul shalallahu alaihi wa sallam berkata: Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan". [Surat Al-Furqan 30]
Begitupula ia menghafalkan matan-matan ilmiah di berbagai bidang studi yang mudah baginya dan secara berurutan.
......................................................
MENDENGARKAN.
 Janganlah yang menjadi syaikhmu (gurumu, pen) adalah kitab saja. Ini adalah realita nyata yang dijumpai. Hal ini banyak kita dapatkan pada orang otodidak (belajar sendiri tanpa guru) - katanya - ternyata tidak semangat menghadiri durus (pelajaran-pelajaran)  yang disampaikan oleh para Ulama, tidak pula duduk di hadapan mereka, tidak pula belajar dari Para Masyaikh Sunnah.
Kau dapati hasil akhirnya bermunculan darinya berbagai kesesatan, kebid'ahan, penyimpanan dalam keadaan ia tidak menyadari, bahkan menyangkanya sebagai Al-Haq.
Inilah prinsipnya. Maka dari itu, terdapat atsar dari Al-Imam Malik rahimahullah:

لا يؤخذ العلم من ثلاث
Artinya: "Ilmu tidaklah diambil dari 3 golongan"
Di antaranya beliau sebutkan

و من لم يعرف بالرحلة في طلب الحديث.
"Orang-orang yang tidak dikenal pernah rihlah (bepergian, pen) untuk belajar hadits"
 Apa maksudnya "RIHLAH fii thalabil hadits"? Maknanya adalah : BERJUMPA dengan para Ulama dan BELAJAR LANGSUNG dibawah bimbingan mereka.
Hal ini, wahai saudara-saudaraku seperti yang aku jelaskan, kemudahan di zaman kita sekarang lebih banyak daripada kemudahan di masa lalu. Al-Imam Ahmad rahimahullah -sebagaimana kita diketahui- termasuk penduduk kota Baghdad, Irak. Beliau pergi (rihlah)  ke Yaman belajar kepada Al-Fadhl bin Dukain bersama Al-Imam Yahya bin Ma'in rahimahullah. Mereka berangkat,  dan ketika itu sedang musim haji.

Mereka berkata:
نذهب إلى الحرمين فنحجُّ، و نلتقي بعلماء الحرم، ثم نرحل إلى اليمن.
"Kita akan pergi ke Negeri Haramain, lalu berhaji. Kita akan menemui para Ulama Negeri Haram (untuk menimba ilmu kepada mereka, pen), kemudian kita akan melanjutkan pergi ke Yaman".
 Perhatikanlah rihlah tersebut.  Perjalanan yang panjang.  Mereka duduk (di hadapan syaikh yang menjadi tujuan rihlahnya) berbulan-bulan,  bahkan bertahun-tahun. Mereka rihlah ke Yaman.
Allah Azza wa Jalla memberi kemudahan Al-Fadhl pula berhaji pada tahun tersebut.
Al-Imam Yahya rahimahullah berkata:

يسر الله عز و جل عنا تلك الرحلة، فنأخذ العلم منه هنا.
Artinya: "Allah memudahkan untuk kita rihlah tersebut. Kalau begitu kita mengambil ilmu darinya (Fadhl bin Dukain) disini saja. "
 Maka Al-Imam Ahmad rahimahullah mengatakan - ini menunjukkan pada tekad dan keinginan yang bulat untuk rihlah - :
لا أقطع نية نويتها لله، بل نرحل إلى اليمن معه
Artinya: "Aku tidak akan memutuskan niatku yang telah aku niatkan untuk Allah. Kita akan tetap melanjutkan rihlah ke Yaman bersamanya (Fadhl bin Dukain)!!"
 Mereka pun akhirnya rihlah ke Yaman bersama Al-Fadhl bin Dukain rahimahullah.
Contoh yang semisal ini banyak.

Di masa kita sekarang ada berbagai radio. Para Ulama ada. Dengarkan (siaran muhadharahnya, pen) jika kau belum bisa berjumpa langsung dengan mereka. Dengan tetap diiringi semangat yang tinggi untuk berjumpa dan belajar di bawah bimbingan mereka. Terkhusus sedikitnya jumlah mereka di zaman ini yang diketahui berakidah bersih dan bermanhaj dengan Manhaj Salafus Shalih.
 Bersemangatlah untuk berjumpa dan pergi belajar (rihlah)  kepada mereka.
 Jika hal tersebut belum bisa engkau lakukan, makaradio-radio Ahlussunnah (yang menyiarkan pelajaran-pelajaran para Ulama, pen) dan rekaman-rekaman mereka begitu mudah didapat.
Dengarkanlah dan bacalah kitab-kitab mereka beserta syarahnya.

JALINLAH HUBUNGAN DENGAN AHLUL ILMI.
Maka, bersandar semata kepada kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama, termasuk rintangan yang menghalangi seorang Penuntut Ilmu untuk sampai kepada tingkatan Ulama.

 Sulaiman bin Musa Al-Faqih rahimahullah berkata.
كانوا يقولون لا تأخذ القرآن عن المصحفيين، و لا العلم عن صحفيّ.
Artinya: "Dahulu mereka (Salaf) berkata: "Jangan kalian mengambil Al-Quran (mempelajari) dari Mushafiyyin, jangan pula mengambil ilmu dari Suhufy".
 "Al-Mushafiy": maknanya adalah orang yang mempelajari Al-Quran tanpa merujuk kepada Al-Qurra (Orang yang berilmu tentang Al-Quran), juga tidak mendengarkan darinya. Engkau akan mendapati beragam kesalahan pada orang-orang yang belajar Al-Quran hanya dari mushaf.
 Demikian juga orang yang belajar dari "Suhufy". Suhuf yang dimaksud adalah kumpulan kertas yaitu kitab-kitab, tanpa merujuk kepada Para Ulama. Tidaklah diambil ilmu dari mereka.
Seyogyanya bagi Penuntut Ilmu untuk bersemangat dalam bab ini.

 http://daurah.asysyariah.com/metode-tepat-memperoleh-ilmu/

PILIHAN-PILIHAN